Bulan itu indah
Mentari itu hangat
Pagi itu dingin
Sore itu... gila.
Jangan tanya malam,
ia sedang berkelana.
Jangan tanya siang,
ia sedang merayu.
Lalu, detak pun beradu,
menyamar menjadi jangkar di tengah badai.
Imajinasi pun berkhayal, terbungkus genggaman.
Tanpa sadar, gerbangnya telah terjaga.
Kita tadi berbicara langit, kan?
Tampaknya, ia sedang berpura-pura,
tidak mendengarnya lagi.
Sekali lagi, ia menunggu.
Tapi apa yang dia tunggu?
Apakah malam yang berkelana?
Atau siang yang lagi merayu?
Kurasa tidak demikian,
bisa saja ia menunggu sore datang bersama bulan.
Oh itukah?
Pasti ia telah gila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar