Senin, 20 April 2026

Gemuruh yang Singgah

Jatuh cinta itu menyenangkan, ya?
Seolah ada pemberat yang janggal.
Rasanya berat...
Tapi di lain sisi, ia asing.

Tarikannya pun lebih sulit.
Lengkungan itu kian menderu.
Namun anehnya, kau menemukan oase.

Apa kau menemukan cinta?

Tidak juga.
Hanya tentang menyukai ide di dalamnya.
Membayangkan konsepnya.
Lalu, garis lengkungannya hadir.
Ia... semakin menawan.

Kau jatuh lagi?

Tidak, kurasa.
Hanya saja...
Gemuruh sesaat hadir.
Asmaraloka mengetuk di baliknya, dengan tidak sabar.
Begitupun sasmita, ia mengintip dari jauh.
Lalu, sajak ini selesai begitu saja.

Kau mengerti maksudnya?
Menyadari sesuatu?
Ah, malam ini terasa berbeda, ya?
Dan kau, perlahan-lahan berkilau.

Apa itu yang disebut euforia?

Mungkin saja...
Aku tidak tahu pasti.

21/04/26
#Reshalianne.

Sabtu, 18 April 2026

Di Ambang Isi

Gelas itu mulai diisi.
Awalnya penuh debu, dihiasi bercak noda.
Air semula bahkan tidak lagi meninggalkan jejak.
Lalu... seseorang menggenggamnya.
Tidak erat, tidak pula kasar.

Hanya... pas.

Ia terbawa pergi.
Jauh...
Meninggalkan ruang usangnya.

Perlahan... ia kembali berkilau,
Seperti sedia kala.
Bahkan, udaka tidak segan mengisinya.
Jemari berebut di depannya.

Gelas itu kebingungan.
Terheran-heran.
Mulai meragu.
Apakah ini yang dinamakan fana?

Pantaskah ia?

Ia harap, semuanya bukanlah paradoks.

#Reshalianne.

Kamis, 02 April 2026

Bias

Kapan bias itu tiba?
Larut mulai melambat dan ia makin berkelana.
Dengung kian memekik, sangat mengganggu.
Lalu hening, sesaat.

Sesuatu terjadi.
Ketukan terdengar.
Langkah tergesa itu tiba.
Jemari menyentuh di baliknya.
Lalu, gelap.

Tahukah kamu, apa yang terjadi?

Diam-diam ia melenguh.
Di antara bayangan dan kegelapan.
Terkunci dan... membisu.

Hingga...
Ketukannya mulai menjauh.
Langkahnya menghilang.
Lalu, sunyi menelannya.

Ia berbalik, mencari celah.
Setitik demi setitik.
Namun, belum sampai ia mencari...

Bias telah tiba.

03/04/26
#Reshalianne

Senin, 23 Februari 2026

Aksara dan Khayalan

Harapan itu kembali tergores luka,
Seakan telah tau, dan menantinya.
Bayangan masa lalu kembali menghantam realita.
Seperti biasa.

Kau,
Kau,
dan kau,

Ternyata tidak lebih dari aksara dan khayalan.

Sungguh lucu,
Tapi nyatanya,
Itu nyaris
Menenggelamkan
Seluruhnya.


26/06/25
#Reshalianne.

Ia yang Memilih Tinggal

Hendaknya ia berkelana hari ini.
Hendaknya angannya meredup malam ini.
Hendaknya hentakan itu meratapi sendu.
Nyatanya, kehendaknya melebur lalu... mengadu.

Kini langkahnya ringan ria, menyambut renjana.
Sesaat, ia terhenti menyapa puspa lalu beralih ke nabastala.
Jemarinya mengetuk-ngetuk riang dan menari-nari liar mengudara.
Anila pun ikut tergerak menggodanya, 
mengecup lembut permukaan kulitnya.

Simfoni lantas mengalun, memanggil harsa tuk mendekat.
Sangkala tidak ingin ketinggalan, ia menarik buana bersamanya.
Anehnya, melankolia malah menarik diri,
lalu ia tersenyum sembari melambai jauh... mengangkasa.

Sekali lagi, hendaknya memilih menetap.
Ia tidak lagi bermaksud menggila hari ini.
Tidak lagi bersahutan dengan nestapa malam ini.
Ia hanya kembali ke mayapada.
Sejenak menetap... menyemai renjana.

19/02/26
#Reshalianne.

Selasa, 17 Februari 2026

Residu Sunyi

Malam ini, tidak ada apa-apa.
Namun sunyi seketika mengisi.
Gelap lantas berpendar.
Asing mulai hinggap.

Ironinya, sepatunya masih di sana.
Tidak lagi sebersih sebelumnya.
Nodanya tertinggal, tidak dipedulikan.
Baunya terperangkap dan terpaksa... tinggal.
Jejaknya... tidak lagi nampak.

Ironinya lagi, tidak ada kaki yang mengakuinya.
Tidak ada lagi mata yang meliriknya.
Tidak ada tangan yang ingin meraihnya kembali.
Tidak ada lagi sepasang kaos kaki yang sudi membersamainya.

Sepatu itu... ia terlupakan,
begitu saja.

Apakah itu kesalahannya?
Aku yakin, tidak.

Sepatu itu hanya berusaha ada.
Ingin berguna.
Atau mungkin... ingin dihargai?
Hanya saja, pemiliknya tidak lagi mengaguminya.
Ia tidak lagi didamba, sebagaimana awalnya.
Ia perlahan... menjadi usang.

Kabarnya, asing mulai menelannya.


#Reshalianne.

Rabu, 11 Februari 2026

Anomali Rasa

Bulan itu indah
Mentari itu hangat
Pagi itu dingin
Sore itu... gila.

Jangan tanya malam,
ia sedang berkelana.
Jangan tanya siang,
ia sedang merayu.

Lalu, detak pun beradu,
menyamar menjadi jangkar di tengah badai.
Imajinasi pun berkhayal, terbungkus genggaman.
Tanpa sadar, gerbangnya telah terjaga.

Kita tadi berbicara langit, kan?
Tampaknya, ia sedang berpura-pura,
tidak mendengarnya lagi.

Sekali lagi, ia menunggu.
Tapi apa yang dia tunggu?

Apakah malam yang berkelana?
Atau siang yang lagi merayu?

Kurasa tidak demikian,
bisa saja ia menunggu sore datang bersama bulan.
Oh itukah?
Pasti ia telah gila.

#Reshalianne

Gemuruh yang Singgah

Jatuh cinta itu menyenangkan, ya? Seolah ada pemberat yang janggal. Rasanya berat... Tapi di lain sisi, ia asing. Tarikannya pun lebih sulit...