Senin, 23 Februari 2026

Aksara dan Khayalan

Harapan itu kembali tergores luka,
Seakan telah tau, dan menantinya.
Bayangan masa lalu kembali menghantam realita.
Seperti biasa.

Kau,
Kau,
dan kau,

Ternyata tidak lebih dari aksara dan khayalan.

Sungguh lucu,
Tapi nyatanya,
Itu nyaris
Menenggelamkan
Seluruhnya.


26/06/25
#Reshalianne.

Ia yang Memilih Tinggal

Hendaknya ia berkelana hari ini.
Hendaknya angannya meredup malam ini.
Hendaknya hentakan itu meratapi sendu.
Nyatanya, kehendaknya melebur lalu... mengadu.

Kini langkahnya ringan ria, menyambut renjana.
Sesaat, ia terhenti menyapa puspa lalu beralih ke nabastala.
Jemarinya mengetuk-ngetuk riang dan menari-nari liar mengudara.
Anila pun ikut tergerak menggodanya, 
mengecup lembut permukaan kulitnya.

Simfoni lantas mengalun, memanggil harsa tuk mendekat.
Sangkala tidak ingin ketinggalan, ia menarik buana bersamanya.
Anehnya, melankolia malah menarik diri,
lalu ia tersenyum sembari melambai jauh... mengangkasa.

Sekali lagi, hendaknya memilih menetap.
Ia tidak lagi bermaksud menggila hari ini.
Tidak lagi bersahutan dengan nestapa malam ini.
Ia hanya kembali ke mayapada.
Sejenak menetap... menyemai renjana.

19/02/26
#Reshalianne.

Selasa, 17 Februari 2026

Residu Sunyi

Malam ini, tidak ada apa-apa.
Namun sunyi seketika mengisi.
Gelap lantas berpendar.
Asing mulai hinggap.

Ironinya, sepatunya masih di sana.
Tidak lagi sebersih sebelumnya.
Nodanya tertinggal, tidak dipedulikan.
Baunya terperangkap dan terpaksa... tinggal.
Jejaknya... tidak lagi nampak.

Ironinya lagi, tidak ada kaki yang mengakuinya.
Tidak ada lagi mata yang meliriknya.
Tidak ada tangan yang ingin meraihnya kembali.
Tidak ada lagi sepasang kaos kaki yang sudi membersamainya.

Sepatu itu... ia terlupakan,
begitu saja.

Apakah itu kesalahannya?
Aku yakin, tidak.

Sepatu itu hanya berusaha ada.
Ingin berguna.
Atau mungkin... ingin dihargai?
Hanya saja, pemiliknya tidak lagi mengaguminya.
Ia tidak lagi didamba, sebagaimana awalnya.
Ia perlahan... menjadi usang.

Kabarnya, asing mulai menelannya.


#Reshalianne.

Rabu, 11 Februari 2026

Anomali Rasa

Bulan itu indah
Mentari itu hangat
Pagi itu dingin
Sore itu... gila.

Jangan tanya malam,
ia sedang berkelana.
Jangan tanya siang,
ia sedang merayu.

Lalu, detak pun beradu,
menyamar menjadi jangkar di tengah badai.
Imajinasi pun berkhayal, terbungkus genggaman.
Tanpa sadar, gerbangnya telah terjaga.

Kita tadi berbicara langit, kan?
Tampaknya, ia sedang berpura-pura,
tidak mendengarnya lagi.

Sekali lagi, ia menunggu.
Tapi apa yang dia tunggu?

Apakah malam yang berkelana?
Atau siang yang lagi merayu?

Kurasa tidak demikian,
bisa saja ia menunggu sore datang bersama bulan.
Oh itukah?
Pasti ia telah gila.

#Reshalianne

Jeda Malam

Aksara Melirih


Bising pun melirih.
Gema pun menjuntai harap.
Malam kian mendalam.
Hangat perlahan terbenam.

Pulang,
tiada aksara yang benar.
Dingin,
pada akhirnya kau tertinggal.

Elok mulai memeluk sepi,
menyusup lalu terpendam.
Semakin jauh,
ya, semakin jauh, Nona.

Kau yakin?
Kau merasakannya?
Atau dunia tampak sedang menyendu?

Tidak yakin?
Oh tidak, Nona...
Alunannya kini kian membelai.


#Reshalianne

Gemuruh yang Singgah

Jatuh cinta itu menyenangkan, ya? Seolah ada pemberat yang janggal. Rasanya berat... Tapi di lain sisi, ia asing. Tarikannya pun lebih sulit...